Ansor JatengIstimewa

Ansor-Banser Menjaga Harapan Anak-Anak di Tengah Kemarau Bawen dengan Air Bersih

0
5
Ansor-Banser Menjaga Harapan Anak-Anak di Tengah Kemarau Bawen dengan Air Bersih

UNGARAN — Pagi itu, air bukan sekadar air. Di tengah musim kemarau yang berkepanjangan, setiap tetesnya menjadi sesuatu yang ditunggu. Ada yang membutuhkannya untuk minum. Ada yang menggunakannya untuk memasak dan membersihkan rumah. Dan di lembaga pendidikan, air menjadi bagian penting agar anak-anak tetap bisa belajar dalam lingkungan yang bersih dan layak.

Di Dusun Geyongan, Desa Kandangan, serta Desa Lemah Ireng, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, persoalan itu terasa semakin nyata ketika sumber-sumber mata air mulai mengering.

Kemarau yang berlangsung panjang membuat persediaan air bersih warga terus menipis. Aktivitas sehari-hari yang selama ini berjalan tanpa banyak dipikirkan tiba-tiba berubah menjadi persoalan: dari mana air untuk hari ini didapat?

Di tengah situasi tersebut, Ansor-Banser melalui Barisan Ansor Serbaguna Tanggap Bencana (BAGANA) memilih datang membawa sesuatu yang paling dibutuhkan warga: air bersih.

Selasa, 22 September 2026, sejak pagi hingga malam, para personel BAGANA bersama Ansor-Banser dan MLU Kabupaten Semarang bergerak mendistribusikan air ke wilayah terdampak kekeringan.

Sebanyak 28.000 liter air bersih disalurkan.

Rinciannya, 21.000 liter untuk warga di Dusun Geyongan, Desa Kandangan, dan 7.000 liter untuk Desa Lemah Ireng.

Jumlah itu mungkin terlihat sebagai angka dalam sebuah laporan kegiatan.

Namun bagi warga yang sumber airnya mulai mengering, 28.000 liter tersebut memiliki cerita yang jauh lebih panjang.

Ada penampungan yang kembali terisi. Ada kebutuhan rumah tangga yang untuk sementara dapat terpenuhi. Ada lingkungan pendidikan yang mendapatkan tambahan persediaan air untuk menjaga kebersihan dan aktivitas belajar anak-anak.

Air datang ketika mata air pergi.

Perwakilan BAGANA Kabupaten Semarang, Nooryanto, mengatakan kondisi kekeringan membuat kebutuhan air bersih masyarakat meningkat. Karena itu, Ansor-Banser berupaya hadir dengan memberikan bantuan sesuai kemampuan yang dimiliki.

“Ketika musim kemarau berkepanjangan dan sumber mata air mulai kering, masyarakat tentu sangat membutuhkan air bersih. Karena itu, kami dari Ansor-Banser bersama BAGANA berusaha hadir untuk membantu memenuhi kebutuhan tersebut,” ujar Nooryanto.

Bagi Nooryanto, bantuan air tidak semata-mata berkaitan dengan jumlah liter yang berhasil dikirimkan.

Ada kebutuhan manusia yang jauh lebih mendasar di baliknya.

Terlebih ketika kekeringan turut menyentuh lembaga pendidikan.

Anak-anak tetap datang untuk belajar. Guru tetap menjalankan kegiatan pendidikan. Lingkungan sekolah tetap harus dibersihkan. Fasilitas sanitasi tetap harus digunakan.

Kemarau tidak mengenal hari libur.

Kebutuhan air pun tidak berhenti hanya karena sumber mata air mengering.

“Lembaga pendidikan juga membutuhkan air. Anak-anak tetap harus belajar, lingkungan sekolah harus tetap bersih dan kebutuhan dasar mereka harus terpenuhi. Jadi bantuan air ini bukan hanya soal mengisi penampungan, tetapi bagaimana aktivitas masyarakat dan pendidikan tetap bisa berjalan,” kata Nooryanto.

Kalimat itu menggambarkan persoalan yang sering luput terlihat ketika kekeringan hanya disajikan dalam angka.

Di balik data tentang desa yang kekurangan air, ada anak-anak yang tetap harus berangkat sekolah.

Di balik laporan tentang sumber mata air yang mengering, ada keluarga yang harus memikirkan persediaan air untuk esok hari.

Dan di balik satu tangki air yang datang, ada rasa lega karena untuk beberapa waktu mereka tidak perlu terlalu cemas memikirkan kebutuhan paling dasar dalam kehidupan.

Para personel BAGANA tidak datang sendiri.

Mereka bergerak bersama Ansor-Banser dan MLU Kabupaten Semarang. Sejumlah personel diterjunkan untuk memastikan bantuan sampai ke wilayah yang membutuhkan.

Mereka bekerja sejak pagi hingga malam.

Tidak ada panggung besar. Tidak ada seremoni yang berlebihan.

Hanya kendaraan pengangkut air, penampungan yang menunggu diisi, dan warga yang berharap kebutuhan mereka untuk beberapa waktu ke depan dapat terpenuhi.

Bagi relawan, perjalanan membawa air mungkin terlihat sebagai pekerjaan sederhana.

Tetapi bagi masyarakat yang sedang menghadapi kekeringan, perjalanan itu berarti.

Nooryanto mengatakan kehadiran Ansor-Banser di tengah masyarakat merupakan bagian dari semangat untuk menjadikan organisasi tidak hanya hadir dalam kegiatan keagamaan maupun sosial, tetapi juga ketika masyarakat menghadapi persoalan kemanusiaan.

“Kami ingin Ansor-Banser benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Kalau ada warga yang kesulitan air karena kekeringan, sebisa mungkin kami hadir dan membantu. Kemampuan kami mungkin terbatas, tetapi kepedulian jangan sampai terbatas,” ujarnya.

Kekeringan tentu tidak selesai hanya dengan satu kali distribusi air.

Hujan tetap dibutuhkan. Sumber mata air perlu kembali terisi. Persediaan air masyarakat harus dijaga agar mampu bertahan menghadapi musim kemarau.

Tetapi bantuan hari itu setidaknya memberikan satu hal yang tidak kalah penting: harapan.

Harapan bahwa ketika sumber air mengering, masih ada tangan yang datang membantu.

Harapan bahwa anak-anak tetap dapat belajar tanpa harus terlalu jauh memikirkan dari mana air untuk kebutuhan sehari-hari berasal.

Dan harapan bahwa persoalan yang dihadapi warga di tengah kemarau tidak luput dari perhatian.

Di Geyongan dan Lemah Ireng, air akhirnya kembali mengalir ke penampungan.

Bagi sebagian orang, mungkin hanya air biasa.

Namun bagi mereka yang sedang menunggu hujan, air itu adalah kehidupan.

Sebab ketika kemarau membuat tanah kehilangan air, kepedulian manusia dapat menjadi mata air yang lain.

Ansor JatengA
DITULIS OLEH

Ansor Jateng

Akun Admin official website Ansor Jateng

Respons (0 )